Monday, February 11, 2013

Cerpen Berdasarkan Pengalaman Pribadi



Tugas Bahasa Indonesia
Cerpen yang bertolak dari peristiwa yang di alami


Bukit Tersembunyi

          Hujan turun deras .Waktu itu saya dan rombongan akan menuju Ketep  Pass. Dalam piker saya,perjalanan menuju Ketep Pass ini akan sia-sia dan akan membosankan . Kenapa? Karena waktu itu sedang turun hujan dan pasti  di sana tidak akan terlihat apa-apa,yang terlihat pasti hanya kabut saja.
“Eh ini percuma tau kita ke Ketep Pass tuh” kata ku cerewet
“Iya eh,bener udah jalannya nyeremin lagi” ujar Putri
“Ya iya, terus juga di sana mau ngapain coba? Pasti banyak kabut sok!”lanjutku.

          Setelah beberapa menit was-was dalam bis,akhirnya sampai juga di Ketep Pass.
“Alhamdulillah akhirnya sampai juga” ucap syukur temanku
“Iya Alhamdulillah, tapi tuh ya benerkan apa kata saya? Ini tempat gak ada apa-apanya, kabut semua men” celotehku
“Tadi tuh gak usah ke sini ,harusnya langsung ke hotel aja” ucap Agung.

          Langit masih menangis gerimis. Ketika itu rombongan kami telah bersiap-siap untuk keluar dari bis. Dan seketika hujanpun turun kembali.
“Waduh hujan lagi eh” kata Arif
“Baru aja mau keluar,hadeuuuh” sambung Alif
“Ya udah tunggu aja sampai reda” ujarku.
Hujanpun reda,rombongan kamipun langsung turun dari bis.

          Walaupun di sana penuh dengan kabut dan masih disertai dengan hujan rintik-rintik,tapi kami sangat kagum akan pemandangan dan suasana di Ketep Pass. Udaranya yang dingin memberikan kesejukan bagi kami.
“Nyatakan kabut semua” seruku
“Gapapalah enak je seger” kata Agung
“Coba aja gak hujan ya, bagus banget kayanya mah” ucap Gita
“Hmp, terus juga tadi tuh gak usah ke Taman Kyai Langgeng dulu langsung ke sini aja. Percuma di sana juga gak ngapa-ngapain” lanjut Suci.

          Langsung saja kami bergegas kepuncaknya untuk melihat pemandangan dan ternyata……
“Subhanaullah dingin banget, tapi keren-keren walaupun kabut semua juga” ucapku kagum atas pemandangan yang ada di Ketep Pass.

          Semakin lama,kabut di Ketep Pass-pun semakin tebal. Jarak pandang 5 meter atau lebih buram, bahkan tidak terlihat .Kamipun kedinginan,tapi semua itu tidak menyurutkan kami untuk bermain dan berfoto-foto.
         
Setelah puas berfoto-foto kami pergi melihat film tentang letusan Gunung Merapi. Suasan a haru menyelimuti ruang teater karena sedih melihat korban letusan Gunung Merapi. Lain halnya dengan saya dan Putri, di saat orang lain sedih dan menangis, saya dan Putri mengantuk melihat film pendek tersebut.
“Eh Put ngantuk yakin” ucapku
“Iya Sel sama, kita juga” jawab Putri
Dan seketika kami tertidur dalam teater tersebut walau hanya beberapa menit saja.
“Put Sel banguuuuuuuun!!!” Isma membangunkan
“Ada apa Ma? Filmnya udahan tah?” saurku
“Uwis nok. Tidur bae sih!” jawab Isma yang sedikit membentak
“Hehehe ya orang ngantuk je Ma” Putri sambil cengengesan
“Orang lain mah sedih, lah bocah dua iki malah tidur, bocah bener!” kata Isma menambahkan
“Kamu nangis enggak Ma?” tanyaku
“Enggak juga sih, Cuma sedih doang. Hampir nangis tapi gak jadi ,hahaha” jawab Isma

          Sambil tertawa kami dan yang lainnya keluar dari teater dan kembali menuju bis untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.


SELESAI.
 

No comments:

Post a Comment